Angkringan Tugu
Dari Wiki CahAndong
Angkringan Tugu atau disebut juga Angkringan Lik Man adalah venue kopdar wajib bagi siapapun yang datang ke kota Yogya. Angkringan ini terletak di utara persis Stasiun Tugu Yogyakarta. Menu khas angkringan ini adalah Kopi Joss.
Di Solo, warung semacam ini dikenal dengan nama HIK atau Wedangan, sedangkan di Semarang dikenal dengan nama Kucingan.
Daftar isi |
[sunting] Sejarah
Angkringan ini berdiri sekitar tahun 1950-an dari sesosok Mbah Pawiro/Pairo yang berasal dari Cawas, Klaten. Beliau yang merantau dari desanya menuju kota menggelar dagangan di sekitar emperan Stasiun Tugu Yogyakarta.
Pada saat itu Mbah Pawiro/Pairo berdagang masih menggunakan pikulan (angkring). Saat itu pedagang seperti Mbah Pawiro/Pairo dikenal dengan pedagang ting-ting atau HIK. Hal ini dikarenakan biasanya mereka bedagang berkeliling kampung dengan meneriakkan kata "hhiikk... hiiiyyeeekkk" serta menghiaskan dagangannya dengan hiasan lentera (lampu ting).
Konon nama HIK bermula dari tradisi "Malam Selikuran" Keraton Surakarta. Nama HIK bisa berarti "Hidangan Istimewa Kampung". Hingga kini, nama "Warung HIK" masih dipakai dan dikenal di daerah Solo. Selain HIK, nama lainnya adalah "Wedangan". Berasal dari kata "wedang" atau minuman panas/hangat.
Sedangkan di daerah Yogyakarta, nama yang lebih terkenal adalah "Angkringan". Kemungkinan berasal dari kata "Angkring" yang berasal dari gerobak jualan yang dipanggul (angkring) atau bisa juga berarti malangkring (nongkrong dengan menaikkan salah satu kaki diatas kursi).
Selain nama tersebut diatas, dikenal juga istilah "Lesehan". Hal ini dikarenakan para pembeli biasanya duduk diatas sebuah tikar (lesehan) sambil menikmati hidangan dengan mengobrol.
Bapak Siswo Raharjo (Lek/Lik Man) putra Mbah Pawiro/Pairo mewarisi dagangan ini sekitar tahun 1969. Saat itu ia sering berpindah-pindah tempat berdagang, tetapi masih disekitar stasiun tugu. Baru ditahun 1970-an Lek Man memindahkan dagangannya di Utara Stasiun Tugu.
[sunting] Hubungan dengan Kasultanan
Angkringan ini merupakan salah satu petilasan dalam sejarah Kasultanan Ndoyokarta Hadiningrat karena Sultan menginginkan tempat ini sebagai lokasi jamuan terakhir saat beliau hendak bertolak ke Jancukarta.
[sunting] Menu Khas
- Kopi Joss, kopi tubruk panas yang dicelupi arang membara
- Sego Kucing, nasi bungkus posrsi kecil dengan menu bihun, oseng teri, oseng kikil, oseng tempe, dan lain-lain
- Jadah, biasanya dipanggang dulu sehingga terasa hangat dan beraroma
- Sate Usus, usus ayam yang ditusuk menjadi sate
[sunting] Pengunjung
Hampir seluruh lapisan masyarakat pernah mengunjungi Angkringan Tugu ini. Mulai dari pejabat hingga rakyat biasa. Dari artis terkenal, hingga artis jalanan. Dari konglomerat, hingga kaum duafa. Dari mahasiswa, hingga anak TK. Dari pegawai, hingga pengangguran. Dari aparat hukum, hingga preman. Dari anak gaul, hingga anak cupu. Dan masih banyak lagi lainnya yang terlalu panjang jika disebutkan semuanya.
Seniman Butet Kertaredjasa dan Djaduk Feryanto merupakan seniman yang sering nongkrong di angkringan ini. Perpisahan Sultan ke jancukarta pun dilakukan di tempat ini.
[sunting] Riwayatnya Kini
Muncul isu mengenai penggusuran angkringan legendaris ini. Isu penertiban kota rupanya telah menggusur nilai-nilai historis dan romantisme lokasi ini.